ENGLISH
Bali Humanitarian Donation
TOKYO (SuratkabarCom) -
Munculnya ide mengumpulkan dana kemanusiaan ini sebenarnya dari rasa kepedulian sosial masyarakat Indonesia yang ada di Jepang dan sekaligus juga warga Jepang sendiri, terhadap keprihatinan yang terjadi di Indonesia, khususnya ledakan bom di Kuta, Bali yang membunuh sekitar 200 orang di mana sekitar 100 orang adalah warga Indonesia dan mayoritas penduduk Bali.
Pula Bali sendiri merupakan salah satu pintu gerbang internasional masuk ke Indonesia. Mungkin bagi beberapa warga Jepang merupakan pintu gerbang surga karena sudah tertanam di jiwanya sebagai tempat yang aman dan tempat bersantai yang sangat indah.
Namun kesan itu hilang hanya dalam sekejap mata. Semua berubah menjadi puing-puing dan beberapa masyarakat internasional berusaha menghindar. Beberapa negara menerapkan Travel Warning atau Kehati-hatian Bepergian ke Bali khususnya. Pesanan tiket pesawat menuju Bali dibatalkan sekitar 70%. Demikian pula pesanan hotel drop menjadi hanya sekitar 30% saja dari yang biasanya tingkat hunian sekitar 100%. Lebih parah lagi ada pemimpin negara yang terang-terangan menghimbau rakyatnya jangan ke Bali bahkan menambahkan wanti-wanti akan ada bom lagi meledak di Indonesia.
Memang keadaan Indonesia, khususnya Bali saat ini sangat mengenaskan. Meminjam kata-kata dari Pak Harto (mantan presiden Soeharto), "Kita miris mendengarnya." Artinya, sangat memprihatinkan.
Tidak berhenti pada kata-kata, kita lihat kenyataannya saat ini. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan ke Bali kini hanya sekitar 700 orang per hari. Padahal sebelumnya 5.000 orang per hari.
Lalu tingkat hunian hotel hanya mencapai 18% dari yang sebelumnya sekitar 75% tertinggi di Indonesia. Dengan demikian akan berdampak pula kepada devisa negara. Apabila belanja wisatawan sekitar US$100 per hari berarti penerimaan devisa Indonesia selama Oktober berkurang US$6 juta, karena angka kunjungan ke Bali selama Oktober mencapai 60.000 orang - gabungan jumlah sedikit dan jumla banyak sebelum Tragedy Bali 12 Oktober 2002.
Bisa dibayangkan bulan-bulan berikut Bali khususnya akan lebih menderita lagi dan hal ini akan berlangsung selama sedikitnya satu tahun, belajar dari Tragedi New York 11 November 2001 yang sudah setahun sekali pun, masih belum pulih kembali pariwisatanya sampai saat ini.
Bagaimana dengan para korban khususnya warga Bali? Banyak sekali di antara keluarga korban berasal dari kalangan ekonomi pas-pasan. Banyak sekali ibu rumah tangga ditinggalkan suaminya mendadak. Lalu bagaimana anak-anak mereka, bagaimana masa depan mereka? Sejuta pertanyaan bermunculan.
Untuk upacara bagi orang meninggal, warga Bali, setidaknya ada dua hal perlu diperhatikan. Ini merupakan acara duka cita yang normal atau wajar bagi saat-saat perpisahan keluarga dengan bumi yang mayoritas dihuni kalangan Hindu.
Ada yang bernama banten atau persembahan dengan biaya sekitar Rp 15 juta-an. Sedangkan untuk bade (semacam rumah-rumahan untuk dibakar saat ngaben) harganya sekitar Rp 2,5 juta.
Ngaben sendiri merupakan upacara pembakaran jasad orang yang meninggal, upacara adat duka cita di Bali dengan budaya agama Hindu masuk ke dalamnya.
Dengan biaya yang sangat maahal tersebut, bisa kita bayangkan suara hati mereka untuk acara "perpisahan" dengan anggota keluarga secara pantas, tentu sangat membutuhkan uluran tangan kita bersama.
Sumbangan memang tidak hanya dari kita, juga diperkirakan datang dari banyak kalangan. Olehkarena itu kami akan berusaha mencari kalangan di Bali yang memang benar-benar perlu dibantu dan selama ini mungkin masih belum mendapatkan bantuan dari pihak lain.
Pemberian bantuan pun beraneka ragam, tidak terbatas kepada materi atau uang. Memberikan informasi, meningkatkan kesadaran sahabat kita, walau berbeda warga negara, mengenai keprihatinan Bali dan Indonesia saat ini, juga merupakan satu hal yang patut mendapat pujian. Tentu informasi apa adanya saat ini di mana Bali dan Indoensia memang sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan dari kita semua, tidak memandung suku, agama, ras, golongan atau warga negara sekali pun.
Bantuan pun bisa kita manfaatkan untuk hal lain, misalnya memperbaiki lingkungan hidup, misalnya pohon-pohon yang hancur di sekitar lokasi kejadian, lalu obat-obatan bagi yang memerlukannya dan sebagainya.
Terpenting tentu suara hati kita sebagai sesama manusia sesama saudara untuk mau ikut bersama-sama neringankan beban mereka semua. Sesunggunya hidup manusia tidaklah panjang. Selama waktu masih di tangan kita, bantuan terhadap sesama tentulah sangat berarti nilainya, memberikan secercah sinar kebahagiaan bagi sesama kita, memberikan semangat untuk hidup kembali dan membangun bersama-sama kita mencapai kehidupan dunia yang aman, sejahtera, tenteram dan berdampingan dengan manis satu sama lain.